Rabu, 16 Oktober 2013

BAKAT BISNISKU: BAKATKU BUTUH

Mendengar kata bisnis terus terang suka membuat perasaan saya campur aduk antara geli, sedih, sekaligus haru. Hehehe lebay yah? Ada ceritanya nih kenapa sampe begitu....

Kalo dihitung dari jam terbang apalagi omzetnya, pengalaman bisnis saya belumlah apa-apa. Masalahnya, saya bukan orang yang memang mengerti bisnis, konsep bisnis di kepala ini cuma: how to make money. Titik. Itu saja. Bagaimana caranya yaaaa sebisa-bisa aja lah.... Kenyatannya saya memang melakukan bisnis semata-mata karena “bakat”... bakatku butuh kalo kata orang sunda mah, alias saking butuhnya... hehehehe. Jd awalnya memang berbisnis karena terpaksa, bermotifkan ingin mendapat uang. So simple.

Berbisnis bukan hal yang mudah untuk saya pada awalnya. Unfortunately, saya dibesarkan pada sebuah keluarga yang entah bagaimana, menganggap bisnis terutama berjualan adalah pekerjaan “kelas dua”. Secara tidak eksplisit ditanamkan bahwa ketika seseorang berjualan, menawarkan barang kepada orang lain, itu hampir sama artinya dengan tangan di bawah. Beda-beda tipis dengan meminta, begitu kira-kira definisi operasionalnya. Weleh... (tepok jidat dah), namun ya begitulah faktanya dan nilai itu terlanjur kuat terpatri di benak.

Meski begitu ketika sudah menikah dan harus pindah ke luar kota mengikuti suami, dengan gaji saya yang pas-pasan, keinginan untuk memiliki uang lebih, sering kali menggoda. Maka akhirnya, mulailah saya mencoba berjualan tas dan baju ke beberapa tetangga dan rekan sekantor. Ternyata kali ini tantangan berjualan datang dari suami. Dia memang tidak secara terang-terangan mengatakan tidak setuju dengan kegiatan jualan kecil-kecilan ini, tapi muka sedihnya selalu tidak bisa disembunyikan ketika saya pulang dengan membawa barang-barang dagangan yang masih sama jumlahnya dengan waktu berangkat tadi, alias barang dagangan belum ada yang laku. “Udah lah ga usah jualan-jualan segala!”, begitu pintanya tanpa menjelaskan alasan di balik permintaannya itu. Namun jelas terbaca dia kasian dan tidak tega melihat saya yang tidak selalu mujur, bisa pulang dengan membawa untung. Hehehehe... padahal namanya juga jualan ada kalanya laku ada kalanya sepi.... Jadi ya... jualan terpaksa dihentikan deh!

Namun “bakat” saya berjualan (bakatku butuh tea) muncul lagi waktu tiba merenovasi rumah. Seluruh gaji saya dan suami selalu habis dalam waktu beberapa jam saja setelah gajian, karena dipakai berbelanja matrial bangunan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya nekat jualan! Kali ini aga “bebas” dari tatapan mata sedih suami karena dia sedang sekolah di luar negeri. Aman terkendali dah.... maju teruuusssss (begitu niat “nakalnya” dalam hati hehehehe....).  

Meskipun pernah berjualan sebelumnya, tetap saja ada  rasa malu dan agak tertekan sebenernya. Beruntung kali ini saya bertemu rekan sekantor yang “gila” dagang. Si Palugada (apa yang lu butuh gua ada) begitu dia menyebut dirinya di depan saya, “jualan itu asik lo mba... gimana ora asik... ketemu banyak orang.... silaturahmi dan duit kumpul! Kalo mau jualan ya niat pertamanya silaturahmi aja dulu. Nanti rejeki datang sendiri. Percaya deh mba!”. Begitulah cara dia “meracuni” saya dengan isme baru soal bisnis. Setelah dipikir-pikir bener juga sih... kita jualan itu separuhnya mungkin adalah silaturahmi. Saya jadi tau kabar teman-teman dan mendapat keuntungan ektra: selalu dapet info-info up date soal adanya proyek-proyek penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang sedikit banyak mendongkrak karier pelan-pelan (saya menjadi dosen honorer waktu itu). Pokonya asik deh merasa selalu terhubung dan dapet informasi dari teman-teman.

Selain soal sukanya, yaitu mendapat uang dan silaturahmi,  ada juga sekelumit cerita duka dari jualan ini. Salah satunya adalah ketika  harus menagih cicilan. Maklum di tempat saya ini sudah menjadi kebiasaan membeli barang dengan cara “diping” alias dicicil. Nah... proses menagih cicilan ini menjadi hal yang agak complicated buat saya, ada sungkannya, dan ya itu tadi... ada malunya karena seperti orang yang meminta-minta!  Namun dengan motivasi kuat karena duit cicilan itu ditunggu untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, maka strategi tebal muka dan doa-doa dilancarkan setiap harus berhadapan dengan urusan tagih menagih ini. Alhamdulilah semua teratasi, hingga dari bisnis jualan baju itu, kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi dan renovasi rumah bisa lanjut terus. Sampai pada akhirnya, rumah pun selesai sudah! Senang, puas dan terharu tak terkira.... perjuangan keras memanggul barang dagangan ke sana ke mari membuahkan hasil yang manis.

Saya benar-benar mendapat manfaat dari kegiatan berjualan tersebut. Pelan-pelan mental saya juga makin kuat untuk berjualan. Ke arisan, ke pengajian, ke kantor, kemana pun bergaul, saya bawa dagangan: mulai dari kaos kaki, baju bayi, sampe baju-baju kerja. Alhamdulilah selalu mencapai break even point alias balik modal dan mendapat untung. Bila ada beberapa baju yang sudah lama tapi tetap tidak laku saya jadikan hadiah untuk kerabat ketika lebaran. Sebetulnya dari setiap item barang, saya tidak pernah mengambil keuntungan terlalu banyak (paling tinggi 50% itu juga karena bayarnya dengan sistem cicilan 3 sampai dengan 5 kali) tapi lumayanlah... tokh kenyataannya saya pernah bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dalam beberapa bulan hanya dari berjualan saja waktu merenovasi rumah. Dan karena fakta ini sekarang suami sudah mulai tidak pasang tampang sedih dan worry lagi tiap mendengar saya jual-jualan. Dia sekarang beranggapan bahwa kegiatan ini justru membuat saya enjoy dan happy. Sukur... sukur.... :-) 

Terasa betul, bahwa berjualan (masih belum pd nih kalo mau nyebut berbisnis) memang merupakan jalan rejeki yang berkah. Pantaslah dalam Islam beberapa hadist berbicara mengenai berbisnis ini, diantaranya: Penghasilan terbaik adalah penghasilan seseorang dari jerih payah tangannya sendiri dan dari setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad di dalam Al-Musnad no.16628). Bahkan dalam hadist yang lain dikatakan: Pedagang yang senantiasa jujur lagi amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang selalu jujur dan orang-orang yang mati syahid.” (HR. Tirmidzi, Kitab Al-Buyu’ Bab Ma Ja-a Fit Tijaroti no. 1130).

Sampai sekarang saya masih belajar dalam hal bisnis. Utamanya, memotivasi diri sendiri supaya lebih banyak memanfatkan waktu untuk hal-hal yang positif, termasuk membuka bisnis yang melibatkan orang banyak, sehingga harapannya lebih banyak lagi yang mendapat manfaat. Semoga Alloh SWT memampukan kita semua untuk  menjadi rahmatan lil alaamin. Jadi apapun namanya, bisnislah, jualan lah... mari niatnya kita luruskan dulu: yaitu sebagai bentuk ibadah kepada Alloh. Soal untung dan kelanjutan bisnisnya, insyaalloh pastinya Alloh Maha Kaya Maha Pengasih dan Penyayang... yang tidak beriman lantas rajin usaha saja diberi rejeki... masa kita orang-orang yang tengah berusaha berbisnis dengan niat ibadah ga dikasih....?? Ya ga ya ga??? Heuheu.... Cumunguuudhh!


Cabai vs kelapa


Setelah kemarin siang  diputuskan bahwa komoditas yang akan saya teliti adalah kelapa dan arah penelitiannya mengenai pengembangan produknya berbasis komputer, saya mulai coba2 browsing ttg kelapa. Dan taraaaaaaaa!!!!.... Informasi yang diperoleh sungguh luar biasa banyaknya (dibandingkan dengan cabai tentunya). Sejenak seperti diliputi euforia kebanjiran informasi. Satu hal yang sangat berbeda dg ketika mencari apapun tentang cabai di internet. Tapi entah dari mana asalnya saya tiba2 seperti mesti pergi meninggalkan sesuatu yang sudah begitu akrab dengan saya selama 2 semester bahkan sempat disergap perasaan "mengkhianati" perjuangan selama ini.


Selama sekolah di TIP, kelapa dan sawit seperti primadona dengan segala pesonanya. Mereka dipuja dan diperbincangan oleh siapapun... sementara cabai hanyalah si itik buruk rupa yang menjadi anak tiri agroindustri. Cabai hanya dianggap sebagai biang kerok yang dimaki2 pemerintah karena menaikkan laju inflasi, dan oleh para agronomist atau peneliti hortikultur dan hama penyakit tanaman, cabai identik dengan sosok yang bandel dan "angel" untuk diurusi.

Terus terang, saya selalu iri dengan pekerjaan yang dilakukan teman2 lain yang concern ke sawit. Pr dan tugas2 berbahan sawit bisa dengan lancar jaya menghasilkan paper berpuluh2 lembar dengan informasi yang up to date. Sementara saya terengah2 dalam menyusun paper barang 10 lembar untuk memotret cabai dalam berbagai posenya.


Hm... saya jadi inget Prof Syamsul beliau bilang kita harus istiqomah menentukan komoditas dan secara garis besar topik penelitian kita.... tapi ternyata... perjalanan penelitian membawa saya ke arah yang ga disangka2. Dan ini bukan kali pertama. Itu semua pernah saya alami di S1, berpindah dari kentang ke cabai karena "keinginan" dan interest pembimbing... dan sekarang dari cabai ke kelapa. Entah apa yang terjadi di depan sana. Saya hanya tau bahwa saya mesti membawa pulang ijazah doktor secepat mungkin. Saya hanya ingin segera ada di rumah lagi untuk suami dan anak2! Sehingga apapun itu hanya kata bergegas yang terpatri di otak saya


Sekali lagi, ada rasa kehilangan yang dalam untuk meninggalkan cabai... seperti mesti pergi dari keakraban dengan seorang sahabat.... hm... speechless. Namun apapun yang telah terjadi di belakang ga pernah saya anggap sebagai kesia2an. Saya banyak belajar tentang cabai dan sekarang harus belajar tentang kelapa.... tokh inti dari semua itu bermuara pada satu diksi yang sama: belajar!


Oke everybody, maaf kalo email ini begitu aja nyelonong menyesaki inbox kalian semua. Harap maklum di perantauan dalam kesendirian seperti ini betapa sangat berartinya seorang teman yang mau mendengarkan keluh kesah. Untuk kalian semua sahabat2 seperjuangan, semoga Alloh SWT membukakan jalan selebar2nya menuju tujuan mendapat gelar doktor.



Dari buku Chiken Soup For The Unsinkable Soul saya temukan kalimat ini.... Apa yang anda hasilkan tidaklah begitu penting, karena yang terpenting adalah menjadi apa anda karenanya....

See u later and tetap semangat!!!!